Gunung Kelud
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi
Kelut yang berarti "
sapu" dalam
bahasa Jawa; dalam
bahasa Belanda disebut
Klut,
Cloot,
Kloet, atau
Kloete) adalah sebuah
gunung berapi di Provinsi
Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara
Kabupaten Kediri,
Kabupaten Blitar, dan
Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat
Kota Kediri.
Bersama dengan
Gunung Merapi, Gunung Kelud merupakan gunung berapi paling aktif di Indonesia.
[1] Sejak tahun 1000 M, Kelud telah meletus lebih dari 30 kali, dengan letusan terbesar berkekuatan 5
Volcanic Explosivity Index (VEI).
[2] Letusan terakhir Gunung Kelud terjadi pada tahun 2014
[3].
Morfologi
Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di
Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses
subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap
lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300
Masehi,
gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang
relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang
berbahaya bagi manusia.
Kekhasan gunung api ini adalah adanya
danau kawah yang membuat
lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat letusan freatik tahun 2007 yang memunculkan
sumbat lava
ke permukaan danau, danau kawah nyaris sirna sehingga terlihat menjadi
semacam kubangan air. Sumbat lava ini hancur pada letusan besar di awal
tahun 2014.
Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar
masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat
daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu.
Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah
Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan
Puncak Sumbing di sisi selatan.
Catatan aktivitas Gunung Kelud
Sejak
abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun
1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa.
[4]
Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara
ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah
letusan pada tahun
1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.
Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat
meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei
[5]),
1951, 1966, dan 1990 (10 Februari). Pola ini membawa para ahli gunung
api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini. Memasuki abad ke-21,
gunung ini erupsi pada tahun 2007, 2010, dan 2014. Perubahan frekuensi
ini terjadi akibat terbentuknya sumbat lava di mulut kawah gunung.
Letusan 1919
Letusan Gunung Kelud tahun 1919 tercatat dalam laporan
Carl Wilhelm Wormser
(1876-1946), pejabat Pengadilan Landraad di Tulung Agung (masa kolonial
Belanda), yang menjadi saksi mata bencana alam tersebut.Disebutkan,
pada 20 Mei 1919 siang, tiba-tiba langit gelap. Hilangnya matahari
membuat semua yang hidup menjadi takut dan gentar. Hujan abu dan batu
yang turun. Para penduduk desa di lereng gunung berusaha menyelamatkan
apapun yang dapat diselamatkan: harta dan jiwa dan hewan peliharaan.
Semuanya berlarian menghindari kekerasan alam. Lari! Lari kemanakah
dirimu? Bernafas semakin sulit. Udara semakin mencekik semua yang
bernafas. Bunyi desiran semakin dekat dan kuat. Aliran lahar
menghancurkan semuanya dan mengganggu jalan keluar untuk manusia.
Bangunan dan pepohonan besar patah menjadi kecil-kecil bak korek api.
Kawah memuntahkan lahar dan abu dan disertai awan gas beracun. Hutan,
tanah dan sawah ditutup kain kafan berwarna abu-abu. Belasan desa raib
dari peta bumi. Ribuan korban jiwa dikubur hidup-hidup
[6].
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban
5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran
lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung
penahan lahar pada tahun 1905
[7].
Selain itu Hugo Cool pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan
penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat.
Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik
[8].
Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan
pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara
keseluruhan dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan
dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah
terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama
Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau
kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik
[7].
Letusan 1990
Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990
hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3
juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24
kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu.
Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai pada tahun 1994.
Letusan 2007
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih
terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan
meningkatnya suhu air
danau kawah,
peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari
kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan
oleh
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km
dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung
tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat
sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan
kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul
16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal
gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat
pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih
dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali
tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah
Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti
dengan
kubah lava
dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus
"tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava
inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera
terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa
letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang
dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi
"siaga" (tingkat 3).
Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah
lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh
berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.
Letusan 2014
Abu vulkanik dari letusan tahun 2014 yang menjangkau
Yogyakarta.
Letusan Kelud 2014 dianggap lebih dahsyat daripada tahun 1990.
[9] meskipun hanya memakan 4 korban jiwa akibat peristiwa ikutan, bukan akibat langsung letusan
[10].
Peningkatan aktivitas sudah dideteksi di akhir tahun 2013
[11].
Namun demikian, situasi kembali tenang. Baru kemudian diumumkan
peningkatan status dari Normal menjadi Waspada sejak tanggal 2 Februari
2014
[12].
Pada 10 Februari 2014, Gunung Kelud dinaikkan statusnya menjadi Siaga
dan kemudian pada tanggal 13 Februari pukul 21.15 diumumkan status
bahaya tertinggi, Awas (Level IV)
[13],
sehingga radius 10 km dari puncak harus dikosongkan dari manusia. Hanya
dalam waktu kurang dari dua jam, pada pukul 22.50 telah terjadi letusan
pertama tipe ledakan (eksplosif). Erupsi tipe eksplosif seperti pada
tahun 1990 ini (pada tahun 2007 tipenya efusif, yaitu berupa aliran
magma) menyebabkan hujan kerikil yang cukup lebat dirasakan warga di
wilayah Kecamatan Ngancar, Kediri, Jawa Timur, lokasi tempat gunung
berapi yang terkenal aktif ini berada, bahkan hingga kota
Pare, Kediri[14]. Wilayah Kecamatan
Wates
dijadikan tempat tujuan pengungsian warga yang tinggal dalam radius
sampai 10 kilometer dari kubah lava, sesuai rekomendasi dari Pusat
Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).
[15] Suara ledakan dilaporkan terdengar hingga kota
Solo dan
Yogyakarta ( berjarak 200 km dari pusat letusan)
[16], bahkan Purbalingga (lebih kurang 300 km), Jawa Tengah
[17].
Keadaan di wilayah Bantul, DIY, saat hujan abu vulkanik Gunung Kelud melanda wilayah ini pada pagi hari tanggal 14 Februari 2014
Dampak berupa abu vulkanik pada tanggal 14 Februari 2014 dini hari
dilaporkan warga telah mencapai Kabupaten Ponorogo, bahkan di Yogyakarta
hampir seluruh wilayah tertutup abu vulkanik yang cukup pekat melebihi
abu vulkanik dari
Merapi. Ketebalan abu vulkanik di kawasan Yogyakarta dan Sleman bahkan diperkirakan lebih dari 2 centimeter.
[18]
Dampak Debu abu vulkanik juga mengarah ke arah Barat Jawa, dan
dilaporkan sudah mencapai Kabupaten Ciamis, Bandung dan beberapa daerah
lain di Jawa Barat.
[19][20]
Di daerah Madiun dan Magetan jarak pandang untuk pengendara kendaraan
bermotor atau mobil hanya sekitar 3-5 meter karena turunnya abu vulkanik
dari letusan Gunung Kelud tersebut sehingga banyak kendaraan bermotor
yang berjalan sangat pelan. Di sisi lain banyak pengguna kendaraan atau
warga di sekitar Kota Madiun yang terganggu akibat Erupsi tersebut.
Menyusul adanya letusan,
Kementerian Perhubungan Indonesia menutup sementara bandar-bandar udara di Pulau Jawa, seperti
Bandar Udara Internasional Juanda Surabaya,
Bandar Udara Abdul Rachman Saleh Malang,
Bandar Udara Achmad Yani Semarang,
Bandar Udara Adi Sutjipto Yogyakarta,
Bandar Udara Adi Sumarmo Surakarta,
Bandar Udara Tunggul Wulung Cilacap, dan
Bandar Udara Husein Sastranegara Bandung[21]. Selain itu,
Bandar Udara Nusawiru di
Pangandaran[22] dan
Pangkalan Udara Iswahyudi,
Madiun, juga ditutup
[23].
Obyek wisata Gunung Kelud
Gunung Kelud 2012. Kubah lava 2007 tampak di tengah, dengan latar
belakang Puncak Kelud. Di sebelah kiri adalah bagian dari Puncak
Gajahmungkur.
Menuju kawasan puncak Gunung Kelud sejak tahun 2004 hubungan jalan
darat telah diperbaiki untuk mempermudah para wisatawan serta penduduk.
Gunung Kelud telah menjadi obyek wisata
Kabupaten Kediri dengan atraksi utama adalah kubah lava. Di puncak Gajahmungkur dibangun
gardu pandang dengan tangga terbuat dari
semen. Pada malam akhir pekan, kubah lava diberi penerangan lampu berwarna-warni
[24]. Selain itu, telah disediakan pula jalur
panjat tebing di puncak Sumbing, pemandian
air panas, serta
flying fox.
Tindakan Kabupaten Kediri membangun kawasan wisata ini mendapat protes dari
Kabupaten Blitar, yang menganggap wilayah puncak Kelud merupakan wilayahnya
[25].
Sengketa wilayah ini terutama meruncing setelah turunnya Surat
Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/2012 yang
menyatakan bahwa kawasan puncak Kelud merupakan wilayah Kabupaten
Kediri.